‘Parmalim’
Mengenal kepercayaan tradisional suku Batak
Sebagai
bagian dari masyarakat yang hidup di antara masyarakat batak, tentunya kita
pernah mendengar kata Parmalim. Menurut mereka yang mengetahui kata Parmalim,
mereka berpendapat bahwa Parmalim adalah agama asli orang batak. Namun, bagi
masyarakat yang hidup di luar masyarakat batak, tentunya Parmalim adalah sebuah
kata yang sangat asing di telinga mereka. Bahkan sangat asing karena kata
Parmalim ini sangat jarang diceritakan maupun disebutkan di era modern sekarang
ini. Sekarang pertanyaan yang paling utama, apa itu parmalim ?
Parmalim
atau Ugamo Malim, adalah sebuah kepercayaan yang berpusat di tanah batak yakni Hutatinggi,
Laguboti, Sumatera Utara. Parmalim merupakan sebuah kepercayaan yang meyakini
Mulajadi Nabolon sebagai Tuhan. Tuhan Mulajadi Nabolon adalah sang pencipta
manusia, langit dan bumi dan segala isi dari Alam semesta. yang disembah oleh
para pengikutnya. Pengikutnya disebut sebagai “Umat Ugamo Malim” alias
Parmalim. Ciri khas dari kepercayaan ini adalah disaat melakukan ritual adat
tertentu, mereka akan mengenakan pakaian jas hitam, Ulos, serta sorban putih di
kepala.
Nyatanya,
sejak dahulu kepercayaan Parmalim ini sangat jarang terekspos di ruang publik.
Hanya beberapa bagian dari masyarakat yang mengetahui secara jelas tentang
kepercayaan ini dikarenakan sistem kepercayaan agama ini yang awalnya ada untuk
menghindari pengaruh agama Kristen, Islam, dan segala jenis pengaruh yang
dibawa oleh Kolonial belanda. Namun, seiring berkembangnya zaman, kepercayaan
Parmalim mulai terekspos ke publik. Menurut data yang disebutkan dalam portal
berita tobatabo.com, ada sekitar 10.000 orang yang menjadi penganut kepercayaan
Ugamo Malim. Kitab suci yang dipercaya oleh penganut Malim disebut sebagai Pustaha
Habonaron ( Pustaka Kebenaran ).
Kepercayaan
ini diyakini telah turun temurun dari generasi ke generasi, dan diturunkan oleh
Leluhur bangso Batak ( sekitar 30 – 35 Generasi ) dan berlandaskan pada sistem
Tarombo atau silsilah yang diturunkan oleh bangsa batak,. Hitungannya, satu
generasi dihitung sekitar 25 tahun. Kepercayaan ini awalnya diteruskan dari seorang
datu di tanah batak, yakni Guru Somaliang Pardede yang di sejarahnya dikatakan
sangat dekat dengan Sisimangaraja XII ( Seorang tokoh penting dari kepercayaan
Parmalim ). Keunikan dari kepercayaan ini adalah hampir tidak ada
peninggalan-peninggalan tertentu yang menjadi jejak kepercayaan Ugamo Malim.
Semua yang berkaitan dengan kepercayaan ini hanya terjejak berdasarkan Lisan
para masyarakat, seperti dongeng dan cerita rakyat. Meskipun demikian,
keyakinan Ugamo Malim tetap eksis sampai sekarang meskipun hanya dengan
bermodal cerita rakyat.
Di kepercayaan Ugamo Malim
sendiripun terdapat beberapa ritual yang menjadi tanda utama dari Parmalim.
Ritual atau upacara dari Ugamo Malim terbagi menjadi dua, yakni Upacara Musiman
dan Non-Musiman. Golongan pertama, Upacara Musiman adalah bentuk ritual yang
diadakan di setiap tahun yang berlandas pada Kalender Batak ( Annual Cycle ).
Seperti Mangan Napaet ( Makan yang pahit ), Sipaha sada ( Hari
kelahiran Simaribulossi ) dan sipaha lima ( Persembahan atau sesaji).
Golongan kedua, yakni Upacara Non Musiman adalah bentuk ritual yang dijalankan
berlandas pada fase hidup manusia dan dapat dikatakan sebagai peristiwa
tertentu manusia dalam kehidupannya. Seperti Martutuaek ( Kelahiran ), Mamasumasu
( Perkawinan ) dan Pasahat Tondi ( Kematian ).
Riki Butarbutar
190904067
UTS Menulis Feature